Pages

Kamis, 17 Januari 2013

Aliran pendidikan realisme



BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi.
Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah.
1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.       Apa yang dimaksud dengan realisme?
2.      Apa saja bentuk-bentuk aliran realisme?
3.      Bagaimana konsep filsafat menurut aliran realisme?
4.      Bagaimana hubungan realisme dan pendidikan?
5.      Bagaimana implikasi realisme dalam pendidikan?
6.      Siapa saja filosof-filosof filsafat pendidikan realisme?

1.3     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1.      Pengertian realisme.
2.      Bentuk-bentuk aliran realisme.
3.      Konsep filsafat menurut aliran realisme.
4.      Hubungan realisme dan pendidikan.
5.      Implikasi realisme dalam pendidikan.
6.      Filosof-filosof filsafat pendidikan realisme.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Realisme
Realisme adalah filsafat yang timbul pada jaman modern dan sering disebut “anak” dari naturalisme. Dengan berpandangan bahwa objek atau dunia luar itu adalah nyata pada sendirinya, realisme memandang pula bahwa kenyataan itu berbeda dengan jiwa yang mengetahui objek atau dunia luar tersebut. Kenyataan tidak sepenuhnya bergantung dari jiwa yang mengetahui, tapi merupakan hasil pertemuan dengan objeknya orang dapat memiliki pengetahuan yang kurang tepat mengenai banda atau sesuatu hal yang sesungguhnya, tetapi sebaliknya dapat memiliki gambaran yang tepat mengenai apa yang nampak. Maka dari itu pengamatan, penelitian dan penarikan kesimpulan mengenai hasil-hasilnya perlu agar dapat diperoleh gambaran yang tepat secara langsung atau tidak langsung mengenaisesuatu.
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monistis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak, dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia.
Realisme suatu aliran lahir di Eropa dalam abad ke-16/17 yang menunjukkan keinginan untuk mengetahui segala sesuatu dalam alam. Ini berarti beralihnya perhatian dari pelajaran-pelajaran tentang manusia kepada realita. Ini berarti pula kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan alam.
Menurut Realisme, kualitas nilai tidak dapat ditentukan secara konsepsuil terlebih dahulu, melainkan tergantung dari apa atau bagaimana keadaannya bila dihayati oleh subjek tertentu dan selanjutnya akan tergantung pula dari sikap subjek tersebut.
Para penganut realisme mengakui bahwa seseorang bisa salah lihat pada benda- benda atau dia melihat terpengeruh oleh keadaan sekelilingnnya. Namun, mereka paham ada benda yang dianggap mempunyai wujud tersendiri, ada benda yang tetapkendati diamati.
Sebagai aliran filsafat, realisme berpendirian bahwa yang ada yang ditangkap pancaindra dan yang konsepnya ada dalam budi itu memang nyata ada. Contohnya:
·         Batu di jalan membuat ban sepeda motor kita kempes, baru dialami memang ada.
·         Tebu yang rasanya manis tanpa memakai tambahan gula, justru dapatmenghasilkan gula. Hal ini memang ada dan nyata.
·         Kucing yang dilihat mencuri lauk di atas meja makan betul-betul ada danhidup dalam rumah keluarga itu.

2.2    Bentuk-Bentuk Aliran Realisme
1.      Realisme rasional
Realisme dapat didefinisikan pada dua aliran, yaitu realisme klasik dan realisme religius. Bentuk utama dari realisme religius ialah “Scholastisisme”. Realisme klasik ialah filsafat Yunani yang pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles, sedangkan realisme religius terutama Scholatisisme oleh Thomas Aquina, dengan menggunakan filsafat Aristoteles dalam membahas teologi gereja. Thomas Aquina menciptakan filsafat baru dalam agama Kristen, yang disebut Tomisme, pada saat filsafat gereja dikuasai oleh Neoplatonisme yang dipelopori oleh Plotinus.
Realisme Klasik maupun realisme religius menyetujui bahwa dunia materi adalah nyata, dan berada di luar pikiran (ide) yang mengamatinya. Tetapi sebaliknya, tomisme berpandangan bahwa materi dan jiwa diciptakan oleh tuhan, dan jiwa lebih penting daripada materi karena tuhan adalah rohani yang sempurna. Thomisme juga mengungkapkan bahwa manusia merupakan suatu perpaduan atau kesatuan materi dan rohani, dimana badan dan roh menjadi satu. Manusia bebas dan bertanggung jawab untuk bertindak, namun manusia juga abadi lahir ke dunia untuk mencintai dan mengasihi pencipta, karena itu, manusia mencari kebahagiaan abadi.
a.      Realisme Klasik
Realisme klasik oleh Brubacher (1950) disebut humanisme rasional. Realisme klasik berpandangan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki rasional. Dunia dikenal melalui akal, dimulai dengan prinsip “self evident”, dimana manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Self evident merupakan hal yang penting dalam filsafat realisme karena evidensi merupakan asas pembuktian tentang realitas dan kebenaran sekaligus. Self evident merupakan suatu bukti yang ada pada diri (realitas, eksistensi) itu sendiri. Jadi, bukti tersebut bukan pada materi atau pada realitas yang lain. Self evident merupakan asas untuk mngerti kebenaran dan sekaligus untuk membuktikan kebenaran. Self evident merupakan asas bagi pengetahuan artinya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada didalam pengetahuan atau kebenaran pengetahuan itu sendiri.
Pengetahuan tentang Tuhan, sifat-sifat tuhan, eksistensi Tuhan, adalah bersifat self evident. Artinya, bahwa adanya Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan bukti-bukti lain, sebab Tuhan itu self evident. Sifat tuhan itu Esa, artinya Esa hanya dimiliki oleh Tuhan, tidak ada yang menyamainya terhadap sifat Tuhan tersebut. Eksistensi Tuhan merupakan prima kausa, penyebab pertama dan utama dari segala yang ada, yakni merupakan penyebab dari realitas alam semesta. Sebab, dari semua kejadian yang terjadi pada alam semesta. Tujuan pendidikan bersifat intelektual. Memperhatiakan intelektual adalah penting, bukan saja sebagai tujuan, melainkan dipergunakan sebagai alat untuk memecahkan masalah.
Bahan pendidikan yang esensial bagi aliran ini, yaitu pengalaman manusia. Yang esensial adalah apa yang merupakan penyatuan dan pengulangan dari pengalaman manusia. Kneller (1971) mengemukakan bahwa realisme klasik bertujuan agar anak menjadi manusia bijaksana, yaitu seseorang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan fisik san sosial.
Menurut Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang diperoleh dengan dengan akal dan mengikat manusia sebagai makhluk rasional. Di sekolah lebih menekankan perhatiannya pada mata pelajaran (subject matter), namun, selain itu, sekilah harus menghasilkan individu-individu yang sempurna. Menurut pandangan Aristoteles, manusia sempurna adalah manusia moderat yang mengambil jalan tengah. Pada anak harus diajarkan ukuran moral absolut dan universal, sebab apa yang dikatakan baik atau benar adalah untuk keseluruhan umat manusia, bukan hanya untuk suatu ras atau suatu kelompok masyarakat tertentu. Hal ini penting bagi anak untuk mendapatkan kebiasaan baik. Kebaikan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dipelajari.
b.      Realisme Religius
Realisme religius dalam pandangannya tampak dualisme. Ia berpendapat bahwa terdapat dua order yang terdiri atas “order natural” dan “order supernatural”. Kedua order tersebut berpusat pada Tuhan. Tuhan adalah pencipta semesta alam dan abadi. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri, guna mencapai yang abadi. Kemajuan diukur sesuai dengan yang abadi tersebut yang mengambil tempat dalam alam. Hakikat kebenaran dan kebaikan memiliki makna dalam pandangan filsafat ini. Kebenaran bukan dibuat, melainkan sudah ditentukan, di mana belajar harus mencerminkan kebenaran tersebut.
Menurut pandangan aliran ini, struktur sosial berakar pada aristokrai dan demokrasi. Letak aristokrasinya adalah paada cara meleakkan kekuasaan pada yang lebih tahu dalam kehidupan sehari-hari. Demokrasinya berarti bahwa setiap orang diberi kesempatan yang luas untuk memegang setiap jabatan dalam struktur masyarakat. Hubungan antara gereja dan negara adalah menjaga fundamental dasar dualisme antara order natural dan order supernatural. Minat negara terhadap pendidikan bersifat natural, karena negara memiliki kedudukan lebih rendah dibandingkan dengan gereja. Moral pendidikan berpusat pada ajaran agama. Pendidikan agama sebagai pedoman bagi anak untuk mencapai Tuhan dan akhirat.
Menurut realisme religius, karena keteraturan dan keharmonisan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, maka manusia harus mempelajari alam sebagai ciptaan Tuhan. Tujuan utama pendidikan mempersiapkan individu untuk dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan adalah mendorong siswa memiliki keseimbangan intelektual yang baik, bukan semata-mata penyesuaian terhadap lingkungan fisik dan sosial saja. William Mc Gucken (Brubacher, 1950), seorang pengikut Aristoteles dan Thomas Aquina yang berakar pada metafisika dan epistemologi, membicarakan pula natural dan supernatural. Tujuan pendidikan adalah keselamatan atau kebahagiaan jasmani dan  rohani sekaligus. Anak yang lahir pada dasarnya rohaninya dalam keadaan baik, penuh rahmat, diisi dengan nilai-nilai ketuhanan. Anak akan menerima kebaikan dan menjauhi kejahatan bukan hanya karena perintah akal, melainkan juga karena perintah Tuhan.
Johan Amos Comenius merupakan pemikiran pendidikan yang dapat digolongkan pada realisme religius, mengemukakan bahwa semua manusia harus berusaha untuk mencapai dua tujuan. Pertama, keselamatan dan kebahagiaan hidup yang abadi. Kedua, keadaan dan kehidupan dunia yang sejahtera dan damai. Tujuan pertama merupakan tujuan yang inheren dalam diri manusia, di mana tujuannya terletak di luar hidup ini. Pada tujuan yang kedua, Comenius tampaknya memandang kebahagiaan dan perdamaian dunia merupakan sebagian dari kebahagiaan hidup yang abadi.


2.      Realisme natural ilmiah
Realisme natural ilmiah mengatakan bahwa manusia adalah organisme biologis dengan sistem saraf yang kompleks dan secara inheren berpembawaan sosial (social dispossition). Apa yang dinamakan berfikir merupakan fungsi yang sangat kompleks dari organisme yang berhubungan dengan lingkungannya. Kebanyakan penganut realisme natural menolak eksistensi kemauan bebas (free will). Mereka bersilang pendapat dalam hal bahwa individu ditentukan oleh akibat lingkungan fisik dan sosial dalam struktur genetiknya. Apa yang tampaknya bebas memilih, kenyataannya merupakan suatu determinasi kausal (ketentuan sebab akibat).
3.      Neo Realisme dan Realisme Kritis
Selain aliran-aliran realisme, masih ada lagi pandanga lain yang termasuk realisme. Aliran tersebut disedut “Neo Realisme” dari Frederick Breed, dan “Relisme Kritis” dari Imanuel Kant. Menurut pandangan Breed, filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip demokrasi. Prinsip pertama demokrasi adalah hormat menghormati atas hak-hak individu. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai menerima arah tuntunan sosial dan individu. Istilah demokrasi harus di definisikan sebagai pengawasan dan kesejahteraan sosial.
Realisme kritis di dasarkan atas pemikiran Imanuel Kant, seorang pensistensis yang besar. Ia mensistensiskan pandangan yang berbeda antara empirisme dan rasionalisme, antara skeptisisme dan paham kepastian antara eudaemonisme dengan puritanisme. Ia bukan melakukan elektisime yang dangkal, melainkan suatu sintesis asli yang menolak kekurangan yang berada pada kedua pihak yang disentiskannya, dan ia membangun filsafat yang kuat.
Adapun bukti-bukti adanya realitas yang objektif ini dimajukan sebagai berikut :
1.      Apa-apa yang terdapat pada pengalaman dalam dan luar itu memberikan sebab yang harus berupa realitas (bukti kausal).
2.      Pengalaman yang tidak kita kehendaki sendiri (jadi bukan fantasi) tak mungkin jika taj ada hal-hal di luar kita (bukti substrat).
3.      Adanya hal-hal sebelum adanya pengalaman itu mengharuskan adanya hal-hal itu tidak tergantung dari pengalaman (bukti kontiunitas).
Menurut Kant, semua pengetahuan mulai dari pengalaman, namun tidak berarti semuanya dari pengalaman. Objek luar dikenal melalui indra namun pikiran atau rasio dan pengertian yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran.

2.3    Konsep filsafat menurut aliran realisme
1.         Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah  kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai  kenyataan (pluralisme);
Metafisika realitas merupakan sisi lain idealisme. Jika ontologis idealisme selalu merujuk bahwa yang ada adalah yang ideal atau sesuatu yang ada dan bisa difikirkan, sebaliknya realisme justru meyakini bahwa yang ada adalah sesuatu yang bisa teramati oleh indra. Dalam pandangan tersebut realism menjadikan indra atau pengamatan sebagai instrument atau epistemology dalam memperoleh pengetahuan serta kebenaran. Para realis, termasuk Bacon, memandang bahwa ilmu pengetahuan bukanlah suatu titik tempat bertolak dan mengambil kesimpulan darinya, melainkan ilmu pengetahuan sesuatu tempat sampai ketujuan. Untuk memahami dunia, orang mesti “mengamati”-nya. Kemudian mengumpulkan fakta , lalu membuat kesimpulan berdasar kepada fakta-fakta itu dengan cara membuat argumentasi induktif yang logis.
Di sini bagi seorang realis, seribu kali sekalipun, akal memiliki idev tentang sesuatu hal. Akan tetapi, jika ia tidak bisateramati oleh indra, sesuatu itu bukanlahsesuatu yang ada. Dalam banyak pengamatan, common sense menjadi epistemologi filsafat realisme. Cerapan indrawi menjadi sarana utama untuk memperolehnya.seorang W.E Hocking dengan nada sarkastiknya membuat pernyataan, betapa sebagai watak umum dari akal, realisme adalah sebuah kecenderungan untuk menjaga diri dan preferensi hidup agar seseorang tidak mencampuri putusan tentang segala sesuatu dan membiarkan objek-objek berbicara untuk dirinya.
2.         Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir;
3.         Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan  memeriksa kesesuaiannya dengan fakta;
Realisme berpandangan bahwa mengetahui itu sama artinya dengan memiliki pengetahuan tentang suatu objek. Kognisi atau hasil mengetahui itu melibatkan interaksi antara pikiran manusia dan dunia di luar pikiran manusia. Bagi kaum realis, mengetahui adalah dua buah sisi proses yang melibatkan sensasi dan abstraksi. Proses ini sesuai dengan konsep realis tentang alam raya yang dualistic, tersusun atas materi dan struktur (komponen dan forma). Bila sensasi diperkenalkan dengan obyek dan memberi kita informasi tentang aspek material dari obyek ini dan kemudian data masuk ke dalam pikiran kita seperti data yang masuk kedalamprogram computer. Sekali masuk kedalam pikiran data sensori ini dipilih dipilih den digolongkan  dan didaftar. Melalui sesuatu proses asbtraksi, akal sehat merangkai data dalam dua kategori besar, yang satu sebagai sesuatu yang harus ada yang selalu ditemukan dalam sebuah objek dan yang lainnya bersifat kontingen atau kadang-kadang ditemukan dalam sebuah objek. Yang selalu hadir itulah yang harus ada atau esensial bagi objek, disebut juga bentuk atau struktur. Bentuk adalah objek tepat dari abstraksi.
Dengan pendapatnya ini juga, epistimologi kaum realisme disebut juga epistimologi “teori pengamat” artinya manusia sebagai pengamat kenyataan. Karena kita semua biasanya terlibat dalam proses mengetahui yang melibatkan sensasi dan abstraksi, “pengamatan” kita dapat berkisar dari hal hal yang paling kasar sampai pengumpulan data yang menggunakan cara-cara terlatih serta tepat akurat. Sebagai pengamat kecil-kecilan dari kenyataan kita mulai dengan memilah objek dalam mineral, tumbuhan dan hewan. Melalui perjalanan waktu, manusia telah mengembangkan alat paling canggih seperti teleskop, mikroskop, dan lain lain.
4.         Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.

2.4  Realisme dan Pendidikan
Pendidikan dalam realisme memiliki keterkaitan erat dengan pandangan john locke bahwa akal-pikiran jiwa manusia tidak lain adalah tabularasa, ruang kosong tak ubahnya kertas putih kemudian menerima impresi dari lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan dipandang dibutuhkan karena untuk membentuk setiap individu agar mereka menjadi sesuai dengan apa yang dipandang baik. Dengan demikian, pendidikan dalam realisme kerap diidentikkan sebagai  sebagi upaya pelaksanaan psikologi behaviorisme ke dalam ruang pengajaran.
Murid adalah sosok yang mengalami inferiorisasi secara berlebih sebab ia dipandang sama sekali tidak mengetahui apapun kecuali apa-apa yang telah pendidikan berikan. Di sini dalam pengajaran setiap siswa akan subjek didik tak berbeda dengan robot. Ia mesti tunduk dan takluk sepatuh-patunya untuk diprogram dan mengerti materi-materi yang telah ditetapkan sedemikian rupa.
Pada ujung pendidikan, realisme memiliki proyeksi ketika manusia akan dibentuk untuk hidup dalam nilai-nilai yang telah menjadi common sense sehingga mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan yang ada. Sisi buruk pendidikan model ini kemudian cenderung lebih banyak dikendalikan skeptisisme positivistik, ketika mereka dalam hal apa pun akan meminta bukti dalam bentuk-bentuk yang bisa didemonstrasikan secara indrawi.
Realisme memiliki pula jasa bagi perkembangan dunia pendidikan. Salah satunya adalah dengan temuan gagasan Crezh, salah seorang pendidik di Mosenius pada abad ke-17 dengan karya Orbic Pictus-nya. Pada periode itu, temuan Orbic Pictus sempat mengejutkan dunia pendidikan dan dipandang sebagai gagasan baru. Ini disebabkan oleh paling tidak ada periode tersebut belum ada satupun yang memiliki pemikiran untuk memasukkan alat bantu visual separti gambar-gambar perlu digunakan dalam pengjaran anak, terutama dalam mempelajari bahasa. Diabad selanjutnya, yaitu ke-18 menjelang abad 19, gagasan Moravi ini menginspirasi seorang pestalozzi. Ia menghadirkan objek-objek peraga fisik dalam ruang pengajaran di dalam kelas.
Corak lain pendidikan realisme adalah tekanan-tekanan hidup yang terarah kedalam pengaturan-pengaturan serta keteraturan yang bersifat mekanistik. Meskipun tidak semua pengaturan yang bersifat mekanistik buruk, apa yang diterapkan realisme dalam ruang pendidikan melahirkan berbagai hal yang kemudian menuai banyak kecaman sebab telah menjadi penyebab berbagai dehumanisasi.

2.5  Implikasi Realisme dalam Pendidikan
Ø  Power (1982)  mengemukakan implikasi pendidikan realisme sebagai berikut:
1.      Tujuan
Penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial;

2.      Kurikulum
Komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis;
3.        Metode
Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan;
4.        Peran peserta didik
Menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin,  peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik;
5.        Peranan pendidik
Menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
Ø  Implikasi realisme dalam pendidikan sebagai berikut:
a.    Tujuah pendidikan
Aristoteles berpendapat bahwa pendidikan bertujuan membantu manusia mencapai kebahagiaan dengan mengembangkan potensi diri seoptimal mungkin agar manusia menjadi unggul. Rasionalitas manusia adalah kekuatan tertinggi manusia yang harus dikembangkan melalui belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Manusia harus pula memberanikan diri untuk mengenal diri, melatih potensi dan mengintegrasikan berbagai peran dan tuntutan kehidupan sesuai dengan tatanan rasional berjenjang.
b.    Konsep tentang sekolah
Setiap lembaga memilki peran khusus, seperti lembaga keluarga, lembaga gereja, demikian pula lembaga sekolah. Sekolah adalah lembaga khusus yang misi utamanya adalah memajukan rasionalitas manusia. Sebagai institusi formal, maka harus mempunyai guru yang kompeten ahli dalam bidangnya dan mengetahui bagaimana cara mengajar kepada peserta didik yang belum dewasa. Fungsi utama sekolah adalah pengembangan intelektual yang efisien. Sedangkan yang lain hanya fungsi sekunder, seperti fungsi reaksional, fungsi komunitas social dan lain lain. Menggunakan sekolah sebagai agen layanan sosial berarti membelokkan tujuan sekolah sehingga akhirnya sekolah menjadi tidak efisien.
c.       Kurikulum
Kenyataan adalah obyek yang dapat diklasifikasikan dalam kategori kategori berdasarkan kesamaan strukturnya. Ada berbagai disiplin ilmu berdasarkan kelompok ilmu yang saling berkaitan untuk menjelaskan realitas. Setiap ilmu merupakan sistem konsep dengan struktur tersendiri. Struktur mengacu pada kerangka konseptual dan makna serta generalisasinya yang menerangkan tentang kenyataan, fisikal, alamiah, sosial, dan realitas manusia . peran sarjana dan ilmuwan penting untuk menentukan wilayah kurikulernya. Mereka ini tahu batas keahliannya dan bidang garapannya. Mereka terlatih dengan metode inquiry yang merupakan cara efisien dalam penemuan berdasarkan riset ilmiah.
Cara paling efisien dan efektif untuk memahami kenyataan adalah belajar sistematis suatu disiplin ilmu. Maka, kurikulum sebarusnya terdiri dari dua komponen dasar. Pertama, bidang ilmu tertentu seperti sejarah, biologi, kimia, dan lain lain. Kedua ilmu tentang kependidikan untuk membentuk kesiapan dan kedewasaan siswa.
Ajaran Pokok Realisme
a.         Kita hidup dalam sebuah dunia yang di dalamnya terdapat banyak hal : manusia, hewan, tumbuhan, benda, dan sebagainya yang eksistensinya benar-benar nyata dan ada dalam dirinya sendiri.
b.         Objek-objek kenyataan itu berada tanpa memandang harapan dan keinginan manusia.
c.         Manusia dapat menggunakan nalarnya untuk mengetahui tentang obyek ini.
d.        Pengetahuan yang diperoleh tentang obyek hukumnya dan hubungannya satu sama lain adalah petunjuk yang paling diandalakan untuk tindakan tindakan manusia.

2.6  Filosof-Filosof Filsafat Pendidikan Realisme
Adapun filosof-filosof filsafat pendidikan realisme adalah:
1.    Aristoteles
2.    John Amos Comenius
3.    Wiliam Mc Gucken
4.    Francis Bacon
5.    John Locke
6.    Galileo
7.    David Hume
8.    John Stuart Mill.

Riwayat  Filsafat
1.    Aristoteles (384-322 SM)
·      Universal adalah konsep-konsep, bukan sesuatu (menolak Idealisme Plato).
·      Penalaran deduktif berdasarkan pengalaman sebagai metode sains danfilsafat.
·      Dalam ilmu pengetahuan, Aristoteles menghasilkan buku-buku dalam ilmu alam, biologi, (Sejarah Hewan adalah prestasi ilmiah terbesarnya) dan psikologi (On the Soul).
·      Metafisika Aristoteles menghasilkan pandangannya tentang Allah sebagai Penyebab Pertama, pikiran murni, internal alam.
·      Etika adalah berkaitan dengan kebahagiaan individu; Politik adalah berkaitan dengan kebahagiaan kolektif.
Filsafat Realisme Aristoteles
Aristoteles (bahasa Yunani: ριστοτέλης, Aristoteles) adalah seorang filosof Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung. Dia menulis di banyak mata pelajaran, termasuk fisika, metafisika, puisi, teater, musik, logika, retorika, politik, pemerintahan, etika, biologi dan zoologi. Meskipun ia adalah murid Plato selama 20 tahun dan sangat terpengaruh olehnya, ada dalam filsafatnya yang merupakan reaksi terhadap pemikiran Plato dalam mendefinisikan Soul (jiwa), dia merasa perlu untuk mempertimbangkan tingkat kehidupan yang berbeda:
a.    Kehidupan Tanaman tingkat terendah dimana hanya ditemukan kemampuan mencari gizi, kekuatan menerima makanan.
b.    Kehidupan Hewan kemapuan mencari gizi dan kemampuan persepsi-menginginkan kemampuan dan kekuatan penggerak.
c.    Kehidupan Manusia-memiliki kemampuan berpikir-hewan yang berpikir dan fungsi sejati adalah hidup secara rasional.
Biografi Singkat
·      Lahir pada1225 di Aquino, Italia
·      Imam dari Gereja Katolik Roma dalam Ordo Dominikan dari Italia
·      Berpengaruh filsuf dan teolog dalam tradisi skolastik, yang dikenal sebagai Doctor Angelicus dan Dokter communis (Salah satu dari 33 Doktor Gereja)
·      Meninggal pada tahun 1274 di Italia
·      Mendirikan Lyceum di Athena 334 SM,
·      Menulis 27 dialog, untuk itu ia terkenal dizaman kuno, dan dianggap sejajar dengan Plato.
·      Dikenal dunia modern melalui catatan kuliah
·      Aristoteles Organon adalah kontribusi logika dan penalaran terdiri darienam buku
2.    Santo Thomas Aquinas (1225-1274)
Biografi Singkat
·      Indra adalah sumber pengetahuan. Bentuk Manusia universal, atau kategori, dari berbagai persepsi tentang seperti benda.
·      Percaya pada pengetahuan melalui indra.
·      Percaya bahwa baik materi dan hakikat terikat di benda-benda fisik.
·      Percaya bahwa pengetahuan dimulai dengan rasa persepsi.
·      Pengetahuan dapat tumbuh di luar indra ketika alasan dunia diterapkan pada pengalaman indrawi.
·      Percaya dalam menggunakan penalaran induktif untuk sampai padageneralisasi atau universal.
·      Dia berpikir penyelidikan ilmiah yang didukung Thomas berjuang keras untuk menjawab hubungan antara Tuhan dan substansi material darimana dunia itu dibuat.
·      Jika Tuhan adalah roh, maka sesuatu akan terpisah dari-Nya. Jawaban Saint Thomas pada masalah ini bahwa Tuhan adalah sesuatu yang tanpa batas dan abadi, tidak ada awal atau akhirnya. Oleh karena itu, benda ini tidak hidup pada waktu sama dengan Tuhan di dalam kekekalan sebelum alam semesta ini dibuat. Tuhan menciptakan sesuatu benda, dan pada materi utama, Tuhan menciptakan benda tersebut yang merupakan unsure pokok yang membedakan dengan benda yang lainnya dan berbeda dengan objek individu dimana dunia itu dibuat. Materi bukanlah satu hal yang otomatis atau keberadaan yang tanpa sebab.
3.    John Amos Comenius (1592 –1670)
John Amos Comenius (28 Maret 1592 -15 November 1670) seorang guru Ceko, ilmuwan, pendidik, dan penulis. Dia adalah seorang Moravia (uskup) Protestan, pengungsi religius, dan salah satu pencetus paling awal pendidikan universal, sebuah konsep yang akhirnya ditetapkan dalam bukunya Didactica Magna. Ia sering dianggap sebagai FATHER OF MODERN EDUCATION.
Konsepsi menarik dari pemikiran Comenius adalah realistis yang jelas, meski keyakinan religiusnya tidak menyelaraskan dengan hal tersebut. Manusia bagaikan sebuah cermin yang terpenjara dalam sebuah ruangan, yang merefleksikan gambaran-gambaran dari semua yang ada disekitarnya, dan menjadi suatu figure hidup untuk menggambarkan karakter dari pikiran. Kamar adalah duniayang eksternal.
4.    Rene Descartes (1596-1650)
Biografi Singkat
René Descartes (31 Maret 1596 – 11 Februari 1650), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius (bentuk Latin), adalah seorang filsuf Perancis, ahli matematika, ilmuwan, dan penulis yang menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di Republik Belanda Meninggal di Stockholm, Swedia, di mana ia telah diundang sebagai guru untuk Ratu Christina dari Swedia. Dia telah dijuluki sebagai "Bapak Filsafat Modern” . Adapun filsafatnya:
·           Metode Menulis tentang Metode dalam versi rasionalis pertama Discourseon Method (Metode Pewacanaan).
·           Keraguan dan Keberadaan Dia menulis tentang keraguan dan keberadaan pada Meditasi Filsafat Pertama.
·           Keseluruhan Filsafat Cartesianism adalah bahwa pikiran terpisah dari tubuh dan bahwa tubuh dapat lebih dipahami.
5.    Francis Bacon (Tokoh pada zaman realisme yang pertama kali menerapkan metode induktif)
Ia berkeyakinan bahwa pendidikan masa lalu (klasik) tidak bermanfaat bagi umat manusia lagi. Apabila manusia ingin sampai pada kebenaran harus meninggalkan cara berpikir deduktif dan beralih ke induktif. Dengan cara berpikir yang analitik orang akan dapat membuka rahasia alam dan dengan terbukanya alam itu kita sebagai bagian dari alam dapat menentukan sikap dan mengatur strategi hidup. Artinya dengan terbukanya alam, kita manusia dapat belajar menyesuaikan atau memanfaatkan alam dari hidup dan kehidupan manusia.




BAB III
PENUTUP


3.1    Simpulan
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang bersifat monistis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak, dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan sebagai objek pengetahuan manusia. Adapun bukti-bukti adanya realitas yang objektif ini dimajukan sebagai berikut :
1.         Apa-apa yang terdapat pada pengalaman dalam dan luar itu memberikan sebab yang harus berupa realitas (bukti kausal).
2.         Pengalaman yang tidak kita kehendaki sendiri (jadi bukan fantasi) tak mungkin jika taj ada hal-hal di luar kita (bukti substrat).
3.         Adanya hal-hal sebelum adanya pengalaman itu mengharuskan adanya hal-hal itu tidak tergantung dari pengalaman (bukti kontiunitas).
Pendidikan dalam realisme memiliki keterkaitan erat dengan pandangan john locke bahwa akal-pikiran jiwa manusia tidak lain adalah tabularasa, ruang kosong tak ubahnya kertas putih kemudian menerima impresi dari lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan dipandang dibutuhkan karena untuk membentuk setiap individu agar mereka menjadi sesuai dengan apa yang dipandang baik. Dengan demikian, pendidikan dalam realisme kerap diidentikkan sebagai  sebagi upaya pelaksanaan psikologi behaviorisme ke dalam ruang pengajaran.
3.2    Saran
Sebagai calon guru kita sebaiknya mengetahui hakikat dari aliran realisme, agar kita memiliki wawsan yang luas tentang pendidikan. Dan dapat kita gunakan sebagai bahan kelak untuk mengajar.
DAFTAR PUSTAKA

Barnadib, Imam. 1990. Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode. Yogyakarta : Andi Offset.

Gandhi HW, Teguh Wangsa. 2011. Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

http//www.scribd.comdoc94393336Filsafat-Pendidikan-Realisme.htm

Poedjawijatna. 2002. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta : Rineka Cipta

Poerbakawatja, Soegarda dan Harahap. 1981. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta : PT Gunung Agung.

Sadulloh, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.




0 komentar:

Poskan Komentar